RSS

Pengakuan Dosa sebagai Senjata Rohani

21 Sep

Oleh Danang DK, Sekolah Filosofi El-Tsaddik, Senin, 21 September 2015, Jam 14:18

Ketika seseorang mengikat perjanjian dengan Tuhan untuk menjadi umat-Nya, sebenarnya itu juga menandai perubahan statusnya. Status anak setan berubah menjadi anak Tuhan. Dia menerima benih (BEN) elohim di dalam dirinya (1 Yoh 3:9). Selain menerima meterai keselamatan untuk masuk surga dia juga mendeklarasikan kepada dunia roh bahwa dia sekarang menjadi musuh setan sang pendakwa. Sejak saat itu dia masuk daftar target setan, dengan alasan-alasan berikut ini: 1) untuk menguji apa dia benar-benar didiami Roh Tuhan, sebab jika cuma deklarasi di mulut saja dia belum tentu lahir baru dan setan masih bisa menariknya kembali ke dalam kerajaannya. Oleh karena itu kita menjumpai orang-orang yang sudah melayani tuhan bisa menyangkal Kristus. Mereka yang pernah memberitakan kabar baik pun bisa begitu, bukan hanya orang awam bahkan mereka yang bergelar teologi pun ada. 2) Jika dia didiami Roh Tuhan maka setan akan berusaha supaya dia tidak berbuah, tidak dekat dengan Tuhan.

Permusuhan ini juga digambarkan oleh Efesus 6:12 “karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara“. Dan karena realita inilah Tuhan memberikan perlengkapan perang di dalam perikop ini juga. Kali ini penulis akan berfokus kepada satu senjata rohani yaitu pedang Roh. Efe 6:17 “dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Elohim”. Bagaimana menggunakan senjata berjenis pedang Roh ini?

Pedang berfungsi untuk menyerang, merobek, merusak pertahanan musuh. Pedang yang teracung adalah tanda deklarasi perang, 1 Tawarikh 21:16 “Ketika Daud mengangkat mukanya, maka dilihatnyalah malaikat TUHAN berdiri di antara bumi dan langit, dengan di tangannya pedang terhunus yang diacungkan ke atas Yerusalem. Lalu dengan berpakaian kain kabung sujudlah Daud dan para tua-tua”. Pedang Roh sejatinya adalah setiap perkataan Elohim yang sudah dituliskan oleh para utusan-Nya. Ketika menghadapi pencobaan, massiah selalu menggunakan perkataan Elohim di dalam Torah/Tanakh untuk melawan kuasa dosa (Matius 4). Kalo teladan ini kita bisa melihat bahwa setan bisa dilawan dengan mengutip perkataan Elohim. Dan tentu saja kita harus tahu mana perkataan yang efektif untuk melawan setan. Kalo godaan soal kebutuhan kita harus menggunakan janji pencukupan dari Elohim, kalo kita mendengar godaan soal keangkuhan kita harus menggunakan perkataan Elohim tentang sikap hati yang benar di hadapan-Nya.

Setan selalu menyerang kita menggunakan perkataan muslihat, selalu begitu sejak pertama kali dia mencobai Adam dan Hawa. Hal ini bersesuaian dengan namanya di dalam Alkitab, HaSatan, yang diterjemahkan sang pendakwa. Sebuah dakwaan dalam persidangan hanya bisa terjadi kalau ada kesalahan yang ditemukan sesuai kitab undang-undang. Begitu pula setan hanya bisa mendakwa kita jika kita memang mempunyai kesalahan/dosa. Maka sistem nilai yang perlu dibangun adalah apabila kita mendengar dakwaan setan kita mesti meneliti hidup kita dan belajar menggunakan pedang Roh yang tertulis di dalam 1 Yohanes 1:9 “1Yo 1:9 Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Apabila kita mengakui dosa kita, tak butuh waktu lama dakwaan-dakwaan itu akan hilang dengan sendirinya. Jika kita tidak bersalah, di dakwa seribu kalipun kita akan divonis bebas.

Mengenali Dakwaan

Sebelum kita maju berperang kita harus memahami musuh kita dahulu, kekuatannya di mana kelemahannya di mana. Sebelum legiun pasukan maju perang, intelijen harus mengumpulkan data-data dulu. Bagian mana dalam diri kita yang rentan diserang, dan apabila serangan datang senjata mana yang efektif melumpuhkan. Massiah dalam kemanusiaan-Nya dicobai dalam tiga hal penting, kebutuhan, keinginan keindahan dan keangkuhan hidup, seperti yang tertulis dalam 1 Yohanes 2:16 “Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. “ Oleh karena itu kita juga akan dicobai dalam ketiga hal pokok ini. Apabila kita sedang membutuhkan sesuatu dan kita tidak bisa memperolehnya sendiri maka akan muncul kesempatan-kesempatan untuk memperolehnya dengan cara-cara yang tidak alkitabiah. Bila orang membutuhkan uang dia menemukan kesempatan untuk memperoleh uang dengan cara mengambil milik orang lain sebagai contoh mencuri, merampok dsb. Tentu saja torah sudah menuliskan “jangan mengingini milik sesamamu”, Keluaran 20:17, Ulangan 5:21. Pelanggaran ini adalah sasaran empuk bagi dakwaan setan. Dan begitu seterusnya untuk jenis dosa-dosa yang lain.

Nah sebenarnya dakwaan ini disampaikan kepada kita melalui suara-suara kecil di dalam hati. Damai sejahtera adalah tanda penyertaan Tuhan, Yohanes 14:27 “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. Yohanes 16:33 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” Apabila hati kita merasakan perasaan bersalah sebaiknya kita menguji hati kita siapa tahu kita mempunyai suatu dosa yang harus dibereskan. 1 Yohanes 4:1 “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Elohim; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia.” Perasaan bersalah bisa merupakan peringatan dari Tuhan supaya kita segera mengakui dosa tetapi bisa juga dakwaan setan. Keduanya bisa dibedakan dengan mudah sebenarnya, perasaan bersalah yang dari Tuhan akan selalu mendorong kita untuk berdoa dan meminta ampun kepada Elohim. Sedang perasaan bersalah dari setan akan mengintimidasi kita bahkan selalu mengatai kita bahwa kita ini orang berdosa yang tidak pantas diampuni, kita terus menerus melakukan dosa yang sama berulang kali dan tuhan sudah bosan mengampuni kita, atau juga menyuruh kita malu masak minta ampun terus tapi tidak berubah. Intinya, perasaan bersalah yang menyuruh kita meratap tapi tidak menyuruh kita untuk mengakui dosa berasal dari setan. Yehuda Yiskariot meratapi pengkhianatannya dengan menyerahkan massiah kepada tentara bait suci, tapi dia tidak mengakui dosanya kepada Tuhan dan dibutakan akan jalan pengampunan itu, berbeda dengan seorang penyamun yang sadar ada jalan ke Firdaus tanpa seorangpun bicara padanya. Roh setan mendakwa Yehuda Yiskariot sedangkan Roh Tuhan menginsafkan penyamun akan dosanya dan tergerak minta belas kasihan supaya boleh masuk Firdaus di saat terakhir hidupnya.

Kenalilah suara hati anda, kenali rasa bersalah dalam hati. Jika cuma menuduh tanpa memberi jalan kelepasan itu berasal dari setan. Jika mendorong untuk minta ampun kepada Tuhan maka anda sedang berbicara dengan Roh Tuhan.

Damai sejahtera adalah kelimpahan kehidupan yang Tuhan sediakan. Milikilah dalam hidup Anda, orang-orang percaya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 21, 2015 in Doktrin/PA

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: