RSS

Penggunaan Kosakata Ragam Ngoko dan Krama dalam Bahasa Jawa

20 Feb

by Kang TePe

Budaya menunjukkan bangsa. Demikianlah bunyi peribahasa. Setiap orang Jawa biasanya dapat berbicara dengan leluasa atau akrab ketika mereka sudah saling mengenal. Waktu untuk ngobrol juga dapat terasa lebih lama. Kosakata yang dipakai pun tentunya adalah kosakata pergaulan sehari-hari.

Kosakata calam bahasa Jawa cukup banyak dan memiliki keunikan tersendiri. Mulai dari tulisannya, cara bacanya, dan pemakinya. Misalnya kosakata ragam ngoko ‘kasar’ . Kosakata ragam ini dipakai oleh orang-orang yang sudah akrab atau sepantaran, juga dipakai oleh orang tua kepada anak. Namun tidak berlaku sebaliknya. Selain itu secara umum dipakai oleh orang yang lebih tua kepada orang yang lebih muda.

Ada lagi ragam krama ‘halus’. Ini berbeda dengan kosakata ragam ngoko. Pemakianya secara umum adalah orang yang muda kepada orang yang lebih tua. Bisa juga oleh anak kepada orang tua. Atau juga murid kepada guru.

Sebagai gambaran kejelasan masing-masing ragam,baik ragam ngoko mapaun krama, mari kita cermati contoh-contoh di bawah ini.

  1. Joko arep lunga menyang pasar Legi. ‘Joko akan pergi ke pasar Legi.’

  2. Pak guru badhe tindak dhateng sekolah. ‘Pak guru akan berangkat ke sekolah.’

  3. Joko badhe tindak dhateng pasar Legi. ‘Joko akan pergi ke pasar Legi.

  4. Pak guru arep lunga menyang sekolah. ‘Pak guru akan berangkat ke sekolah.’

Pada contoh (1) atau kalimat pertama merupakan contoh penggunaan ragam ngoko. Pada ragam ini nama orang tidak mengalami perubahan tingkat tutur ‘spech level’. Nama orang dan nama tempat adalah netral sifatnya, baik ragam ngoko maupun ragam krama. Selain nama orang dan nama tempat, setiap leksikon yang ada merupakan bentuk ngoko semua. Ada kata arep ‘akan’, lunga ‘pergi’, dan menyang ‘ke’. Hal ini dapat kita lihat ketika kalimat itu diubah menjadi bentuk krama pada kalimat (3). Setiap leksikonnya berubah, kecuali nama orang dan nama tempat, yaitu Joko dan pasar Legi.

Pada contoh (2) atau kalimat kedua merupakan bentuk penggunaan ragam krama. Sama seperti ragam ngoko, nama orang dan nama tempat tidak mengalami perubahan tingkat tutur. Leksikon yang dipakai adalah pak guru ‘pak guru’, badhe ‘akan’, tindak ‘pergi / berangkat’, dan dhateng ‘ke’. Kalimat (2) dapat diubah menjadi bentuk ngoko, yaitu pada kalimat (4).

To be continue. Hehehe.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 20, 2014 in Bahasa Jawa

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: