RSS

Dosa yang Tidak Terampuni

18 Jul

Dosa yang Tidak Terampuni

Matius 12:31-32
Khotbah oleh Pastor Eric Chang

Sekilas tentang Matius 12:30

Kita pernah membahas tentang firman yang indah dari Yesus di dalam Matius 12:30, “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.” Dan kita telah melihat apa arti dari ‘bersama Kristus’. Dan kita juga telah melihat bahwa sekadar ‘mendukung Kristus’ tidaklah cukup. Ada banyak orang Kristen yang hanya sekadar mendukung Kristus dalam berbagai pengertian. Mereka bersedia bersorak buat Dia, menetapkan pilihan mereka atas Dia, akan tetapi tidak mau ikut berada di dalam medan perang bersama Dia.

Kita telah mempelajari bahwa Yesus telah berkata kepada setiap orang Kristen bahwa, kita akan mengumpulkan bersama Dia atau mencerai-beraikan. Saat kita beralih ke 1 Korintus 3:10-17, kita melihat bahwa hal ini berkaitan dengan perkara mengumpulkan Jemaat, mengumpulkan umat Tuhan. Dan saya mengajukan pertanyaan tentang apakah Anda bekerja untuk membangun orang lain di dalam iman, membangun Gereja Tuhan? Anda, tentu saja, adalah elemen di dalam Gereja Tuhan, akan tetapi Anda juga dipanggil untuk membangun orang lain ke dalam Gereja Tuhan. Dan bagian bacaan dari Korintus tersebut berkaitan dengan hal membangun tersebut, bukan mempersoalkan apakah Anda ini termasuk bahan baku yang mana, melainkan dengan bahan baku apa Anda membangun Gereja Kristus. Itulah pokok utamanya.

Matius 12:31-32

Dan sekarang ini, kita sampai pada ayat-ayat di Matius 12:31-32, firman yang telah menimbulkan banyak persoalan bagi para penafsir dan orang Kristen pada umumnya. Akan tetapi kita akan lihat bahwa firman tersebut tidaklah begitu sukar jika hati kita terbuka bagi Tuhan.

Sebab itu Aku berkata kepadamu: Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni. Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak.

Mari kita baca juga ayat 33-35

Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal. (Harap Anda perhatikan bahwa di sepanjang bagian bacaan ini, ada pembedaan antara yang baik dan yang jahat; pohon yang baik dengan pohon yang tidak baik di dalam ayat 33Hai kamu keturunan ular beludak, bagaimanakah kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sendiri jahat? Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati. (Perhatikan sekali lagi, pembedaan antara yang baik dan yang jahat berlangsung sampai ayat 35Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.

Kesampingkan doktrin serta prasangka

Nah, ini adalah perikop yang sangat penting. Namun kali ini kita akan memusatkan perhatian pada ayat 31-32 saja, tentang hujat terhadap Anak Manusia, dan hujat terhadap Roh Kudus. Sebagaimana yang saya sampaikan, saya sendiri tidak menghadapi persoalan besar ketika mempelajari ayat-ayat ini.

Sering kali, sebuah perikop di dalam Kitab Suci terasa begitu sulit untuk kita pahami karena kita mempelajari Alkitab dengan membawa berbagai prasangka di dalam pikiran kita. Saat Anda mempelajari Firman Tuhan, Anda harus masuk dengan hati yang benar-benar terbuka tanpa membawa prasangka apa pun. Jika Anda ingin mempelajari Alkitab, pelajarilah dengan hati yang terbuka, dengan berkata, “Tuhan, aku datang kepadaMu dan aku terbuka untuk diajar sepenuhnya. Aku tidak membawa prasangka, aku tidak mempertahankan dogma apapun, tidak ada doktrin yang kupandang lebih penting daripada FirmanMu.”

Sangatlah merbahaya jika Anda telah memegang ide-ide tertentu, yang sudah kuat tertanam dalam benak Anda saat Anda masuk ke dalam Alkitab, karena pikiran Anda sudah tertutup. Anda tidak akan mau mendengarkan Firman Tuhan. Dan setiap kali Alkitab menyatakan hal yang tampaknya berbeda dengan doktrin yang telah Anda anut, dengan alasan apapun itu, Anda akan mendapati bahwa Anda tidak akan mau mendengarkan Firman Tuhan. Inilah hal yang paling berbahaya. Hal yang paling berbahaya!

Masuk ke dalam Firman Tuhan haruslah dengan hati yang benar-benar terbuka, hati yang berkata, “Tuhan, berbicaralah kepadaku.” Dan jika apa yang disampaikan oleh Alkitab bertentangan dengan doktrin yang Anda anut, maka yang akan Anda korbankan adalah doktrin itu, bukannya Alkitab. Anda tahu, kebanyakan dari kita, saat masih baru menjadi Kristen, dijejali dengan berbagai macam doktrin, yang disampaikan kepada kita, walau dengan niat yang sangat baik, namun di saat kita pelajari Firman Tuhan, kita dapati doktrin-doktrin itu tidak cocok dengan Firman Tuhan. Dan tahukah Anda apa yang kita perbuat? Kita mengabaikan Kitab Suci untuk berpegang pada doktrin kita. Ini adalah praktek yang sangat berbahaya, dan ini adalah jalan yang pasti untuk menuju kebinasaan. Nah, ini adalah peringatan yang pertama dari saya bagi Anda.

Saya ingat betapa Firman Tuhan telah berulang kali membuat saya merasa tidak nyaman, saat menyatakan hal-hal yang tampaknya bertentangan dengan doktrin yang telah saya terima. Sebagai contoh, saya bertumbuh di dalam doktrin ‘sekali selamat tetap selamat’, doktrin ini saya yakini tanpa saya pertanyakan lagi, sama seperti orang Kristen yang lainnya, yang menerima doktrin ini tanpa memikirkannya. Namun ketika saya belajar Firman Tuhan, saya menjadi bingung karena ada begitu banyak ayat yang bertentangan dengan doktrin ini. Dan apa yang saya lakukan saat itu? Saya mengabaikan Kitab Suci dan berpegang pada doktrin yang telah diajarkan kepada saya.

Nah, jika kita berbuat seperti ini, atau, bahkan lebih buruk lagi, jika kita pelajari Alkitab dengan hati yang dipenuhi oleh dosa, maka hati kita sudah tertutup sejak awalnya. Inilah alasan mengapa orang non-Kristen seringkali mendapati bahwa menerima Firman Tuhan itu sulit sekali karena ia merasa terusik, dosa-dosanya diungkapkan kepadanya. Namun, saya mohon kepada Anda, masuklah ke dalam Alkitab dengan hati yang terbuka.

Mengapa ayat-ayat ini sangat sulit? Karena banyak orang yang berkata, “Yah, tentunya Tuhan tidak akan menolak untuk memaafkan orang-orang.” Anda masuk dengan membawa satu ide yang kaku di benak Anda, yaitu bahwa Tuhan akan selalu memaafkan setiap orang, bahwa tidak ada situasi di mana Tuhan akan menolak memaafkan seseorang. Tuhan adalah Tuhan yang mengampuni. Nah, jika Anda datang dengan suatu pemikiran yang dogmatik di dalam benak Anda, maka tentu saja, sebagaimana yang telah terjadi pada para teolog, jika Anda bertemu dengan perikop semacam ini, Anda akan menghadapi kesulitan.

Lalu, satu-satunya jalan yang tersisa untuk ditempuh adalah mencoba menjelaskan ayat-ayat itu secara menyimpang. Tentunya ada maksud lain dari apa yang disampaikan oleh ayat tersebut. Demikianlah, inilah penyebab munculnya upaya menyelewengkan Firman Tuhan, upaya untuk membuat penyelewengan makna itu menjadi masuk akal, upaya menyimpangkan makna dari sesuatu yang sudah sangat jelas dinyatakan. Saya mohon kepada Anda sebagai jemaat, dan juga kepada segenap jemaat, untuk datang dengan setulus hati pada Firman Tuhan, dengan hati yang berkata, “Tuhan, apapun yang Engkau katakan, biarlah aku menerimnay sebagaimana yang telah Engkau katakan. Aku tidak akan berusaha untuk menyelewengkan makna apapun yang ada di sini.” Saya berdoa kiranya kita boleh menjadi orang-orang yang mengasihi kebenaran dan bersedia pergi kemana pun kebenaran itu memimpin kita tanpa membawa pemikiran-pemikiran yang sudah tertanam kaku di dalam benak kita.

Jadi, marilah kita hampiri ayat-ayat tersebut dengan sikap hati yang terbuka ini. Apakah ayat-ayat itu benar-benar sulit? Apa kerumitannya? Dari sudut pandang eksegesis, tidak ada masalah dengan tata bahasanya. Satu-satunya persoalan adalah seperti yang telah saya sebutkan tadi, yaitu karena kita menghampirinya dengan membawa ide-ide yang tertanam di benak kita. Cobalah menghampirinya tanpa membawa pemikiran-pemikiran yang kaku dan Anda akan terkejut mendapati bahwa ayat-ayat ini menyatakan kebenaran tentang Tuhan kepada kita dengan cara yang sangat terbuka dan mudah dipahami. Saya harap Anda akan bisa memahami poin ini dengan jelas, entah saat Anda mempelajari Alkitab sendiri, atau di saat Anda mendengarkan uraian tentang Firman Tuhan, ini adalah prinsip mendasar di dalam mempelajari Firman Tuhan. Selalu terbuka kepada Tuhan. Biarlah Dia berbicara dan bukalah telinga serta hati Anda.

Apakah perbedaan antara menghujat Yesus dengan menghujat Roh Kudus?

Pertanyaan pertama yang ingin saya bahas di dalam bagian bacaan ini adalah: apakah bedanya antara menghujat Anak Manusia, yaitu Yesus, dengan menghujat Roh Kudus?

Anda lihat ada dua macam hujatan di sini. Dikatakan di dalam ayat 31: Sebab itu Aku berkata kepadamu: Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni. Sisi positif dari pernyataan ini adalah bahwa tidak ada dosa yang tidak bisa diampuni, kecuali satu. Dan bagian kedua dari sisi positif ini terdapat di dalam ayat 32: “Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni.” Anda boleh menghujat Anak Manusia. Siapa itu Anak Manusia? Di dalam seluruh Perjanjian Baru, Anak Manusia adalah Yesus. Dia adalah Kristus. Dan jika Anda menghujat Anak Manusia, hal itu akan diampuni. “Tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak.” Jadi, segala dosa bisa diampuni kecuali satu, dosa terhadap Roh Kudus. Jika Anda mengucapkan sesuatu hal yang menentang Roh Tuhan, maka untuk hal itu tidak ada pengampunannya.

Sebelum kita mencari tahu apa itu dosa terhadap Roh Kudus, pertama-tama kita perlu meneliti tentang mengapa Anda bisa menghujat Anak Manusia, dan juga melakukan dosa-dosa yang lainnya, dan tetap diampuni, namun ada satu dosa yang tidak terampuni? Mengapa orang bisa sampai menghujat Anak manusia? Jika Anda menentang Yesus, bukankah Anda juga sedang menentang Tuhan? Dan jika Anda menghujat Tuhan, bukankah Anda juga sedang menghujat Roh Kudus? Jadi, bagaimana kita bisa membedakan apa yang disebut hujat terhadap Anak Manusia, yaitu Yesus, dan hujat terhadap Roh Kudus?

1. Kita berbuat dosa dengan menghujat Yesus karena kita tidak tahu siapa Dia itu

Penjelasannya terletak tidak jauh dari sana. Anda lihat, Yohanes Pembaptis berkata kepada orang banyak, “Di tengah-tengah kamu berdiri orang yang tidak kamu kenal.” Yesus berdiri di tengah orang banyak itu, di dalam darah dan daging, sama seperti manusia yang lainnya, dan orang-orang itu tidak tahu siapa Dia. Ini berarti bahwa Anda bisa berbuat dosa terhadap-Nya di dalam ketidak-tahuan Anda. Dosa di dalam ketidak-tahuan itu bisa diampuni. “Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Mereka telah melakukan segala macam dosa terhadap Dia, termasuk menyalibkan Dia. Hal ini lebih buruk dibandingkan sekadar mengucapkan penghinaan kepada Yesus. Menyalibkan Dia jelas-jelas merupakan suatu tindakan menentang Dia. Akan tetapi, Yesus mengampuni mereka. Dan Tuhan mengampuni mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Mereka bertindak dalam kebodohan. Nah, ini adalah hal yang penting untuk diperhatikan.

Namun ini juga menunjukkan bahwa di saat Anda berbuat dosa terhadap Roh Kudus, maka Anda tidak lagi bertindak di dalam kebodohan. Ini adalah poin perbedaan pertama yang perlu diperhatikan. Ini menunjukkan adanya suatu bentuk sikap hati tertentu yang tidak bisa Anda minta pengampunannya. Dan kita akan kembali lagi nanti untuk melihat sikap hati yang seperti apakah itu. Mari kita amati perbedaan yang pertama ini. Kita berbuat dosa terhadap Yesus di dalam kebodohan karena kita tidak tahu siapa Dia.

Saya tidak tahu siapa Yesus itu saat saya belum menjadi Kristen, jadi, saya berbuat dosa terhadap Yesus. Saya meremehkan orang Krsiten, saya menentang Gereja, jadi, saya berdosa terhadap Yesus. Saya tidak tahu siapa Dia itu. Nama Yesus tidak ada artinya bagi saya. Anda mungkin telah menyebutkan nama Yesus secara sia-sia karena Anda tidak tahu siapa Dia itu.

Natanael

Demikianlah, misalnya, seorang yang baik seperti Natanael, di dalam Yohanes 1:46, ketika diberitahu, “Kami telah bertemu dengan Mesias.” Natanael berkata, “Bisakah sesuatu yang baik datang dari Galilea?” Nah, ini adalah ucapan yang paling kasar yang bisa Anda temukan. Dia sedang berkata, “Apakah kamu bermaksud mengatakan bahwa Mesias datang dari Galilea? Bisakah sesuatu yang baik datang dari Galilea.” Sudah jelas, Natanael ini adalah orang Yudea. Dan dia mempunyai penilaian seperti ini terhadap Yesus orang Galilea sampai akhirnya dia bertemu sendiri dengan Yesus, dan kemudian dia berkata, “Engkau pastilah Anak Tuhan!” Matanya terbuka, akan tetapi dia telah berbuat dosa, dalam arti, dia telah mengucapkan sesuatu hal yang menentang Yesus, meremehkan Yesus. Dan apakah itu hujat?

Hujat adalah segala bentuk ucapan yang jahat terhadap seseorang, mengucapkan hal-hal yang jahat tentang orang tersebut. Itulah hujat. Makna kata ini pada dasarnya adalah menjelek-jelekkan, menyatakan hal-hal yang buruk tentang seseorang. Dan tentu saja, Natanael sudah melakukannya.

Paulus menghujat Yesus tetapi tidak terhadap Roh karena semangatnya selalu bergelora terhadap Tuhan

Namun Paulus melakukan hal yang lebih buruk lagi daripada Natanael. Seperti yang dikatakan oleh Paulus di dalam 1 Timotius 1:13, dia sangat bersalah dalam hal menghujat Yesus. Dan inilah yang Paulus katakan di dalam 1 Timotius 1:13-14 – Aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman. Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus. Di sini, rasul Paulus mengakui tiga hal: Penghujat, penganiaya (dia adalah salah satu orang yang menghukum mati Stefanus. Dan kemudian dia memenjarakan beberapa orang lainnya) dan seorang yang ganas. Jadi, dia memiliki kesalahan yang sangat besar. Akan tetapi, dia diampuni.

Di sana Anda melihat perbedaan antara menghujat Kristus dengan menghujat Roh. Satu hal yang tidak dilakukan oleh Paulus adalah menghujat Roh. Mengapa demikian? Karena hati Paulus adalah hati yang selalu terbuka untuk Tuhan. Hatinya selalu dipenuhi oleh semangat untuk Tuhan. Dia menyebutkan hal ini di dalam Filipi 3:6, yaitu bahwa dia telah dipenuhi oleh semangat itu sebelum dia menjadi orang Kristen. Maksud Paulus adalah: Aku menganiaya orang-orang Kristen karena dorongan semangat yang salah arah. Aku sangat mengasihi Tuhan, akan tetapi aku malah menganiaya orang Kristen. Akan tetapi Paulus memiliki satu prinsip di dalam hidupnya, bahkan sebelum dia menjadi Kristen, yaitu untuk menjalani hidup di dalam hati nurani yang baik di hadapan Tuhan. Ini adalah hal yang sangat penting, dan nanti, saya akan kembali untuk membahas masalah hati nurani ini. Di dalam Kisah 23:1 dan juga di dalam Kisah 24:16, dia berkata, “Aku selalu hidup di dalam hai nurani yang baik di hadapan Tuhan, sampai dengan hari ini.”

Tuhan Roh Kudus, berbicara kepada Anda melalui hati nurani Anda

Nah, mengapa perkara hati nurani ini sangat penting? Alasan sederhananya adalah karena Tuhan berbicara kepada kita melalui hati nurani ini. Saya ingin agar Anda bisa memahami ini sebagai seorang Kristen. Roh Kudus berbicara kepada Anda melalui hati nurani Anda. Hati nurani Anda adalah semacam alat yang diberikan oleh Tuhan kepada Anda lewat mana Dia berbicara kepada Anda. Setiap orang yang menghancurkan hati nuraninya akan binasa. Sebagaimana nanti akan kita lihat, tak ada harapan yang tersisa pada orang itu.

Apakah arti pentingnya hati nurani itu? Sekarang ini, orang-orang Kristen tidak banyak mengerti tentang hati nurani. Malahan, mereka jarang sekali berbicara tentang hati nurani. Kini saatnya bagi orang Kristen untuk mengerti apa itu hati nurani. Roh Kudus berbicara kepada Anda melalui hati nurani Anda. Anda harus menjaga kepekaan hati nurani Anda setiap saat. Dapat dikatakan bahwa hati nurani adalah peralatan komunikasi rohaniah Anda. Semacam radio lewat mana Tuhan berbicara kepada Anda. Jika Anda mematikannya, maka Anda akan binasa! Tanpa hati nurani, bagaimana Tuhan akan berbicara kepada Anda? Bagaimana Dia akan mengungkapkan dosa-dosa Anda jika Anda telah mematikan hati nurani Anda? Dan ada orang yang memang telah melakukan hal itu. Anda tidak akan bisa memiliki hati nurani yang baik jika apa yang Anda perbuat itu jahat, atau sikap hati Anda itu jahat. Hati nurani Anda tidak mungkin baik karena Tuhan menyatakan dosa-dosa Anda melaluinya.

Dan hal yang penting untuk diingat, sebagaimana yang kita lihat dari Roma pasal 2, adalah bahwa orang non-Kristen juga punya hati nurani. Hati nurani mereka adalah saluran komunikasi terakhir mereka dengan Tuhan. Sekali pun dia hidup di dalam dosa, selama dia tidak mematikan hati nuraninya, maka Tuhan akan tetap berbicara kepadanya melalui hati nurani tersebut. Itu sebabnya orang non-Kristen juga merasa tidak enak setelah melakukan hal yang jahat, kecuali jika dia telah mematikan hati nuraninya.

Demikianlah, Paulus sangat peduli pada masalah hati nurani ini, dan setiap manusia Tuhan, setiap anak Tuhan, juga harus memiliki kepedulian yang sama. Hati nurani Anda haruslah peka terhadap Tuhan. Mampukah Anda, sebagai seorang Kristen, berkata bahwa Anda memiliki hati nurani yang baik? Ini adalah hal yang sangat penting. Apakah hati nurani Anda baik?

Nah, hati nurani adalah pengganggu yang sangat merepotkan kita. Kita berusaha membantah hati nurani kita. Pernahkah Anda memperhatikannya? Kita mencoba menindas hati nurani kita karena ia sangat mengganggu kita. Namun, semakin Anda membantahnya, semakin keras Anda menekan hati nurani Anda, semakin keras pula suara yang keluar dari hati nurani Anda, dan semakin terganggu Anda jadinya.

Pada akhirnya, Anda akan melakukan salah satu dari dua hal ini. Hati nurani Anda akan mendorong Anda untuk mengambil pilihan. Apakah Anda akan mentaati suara Tuhan yang berbicara lewat hati nurani Anda, yang di dalam Roma 2:15 disebutkan isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka. Atau, Anda akan menekan serta mematikan hati nurani Anda dengan berkata, “Aku tidak mau mendengarkan hati nurani lagi karena aku sudah tidak tahan lagi. Ia membuatku sangat tersiksa.”

Tuhan secara terus menerus memakai radio rohani ini di dalam hidup Anda, untuk berbicara dengan Anda. Dan Paulus, bahkan sebelum menjadi Kristen, adalah orang yang selalu menjaga kepekaan hati nuraninya kepada Tuhan. Inilah alasan mengapa Tuhan bisa berbicara dengan dia, dan berbicara dengan penuh kuasa di jalan menuju Damsyik. Bagaimana dia bisa mendengar jika dia sudah menghancurkan hati nuraninya?

Tuhan juga berbicara kepada kita di masa kini, jika hati nurani kita peka dan mau mendengarkan. Nah, sama halnya dengan radio, ada sebagian radio yang sangat sensitif. Mereka bisa menangkap gelombang siaran dari jarak jauh dan masih terdengar kuat dan jelas. Sebagian lagi tidak sensitif sehingga Anda bisa saja berteriak dari mikrofon dari satu sisi, namun tidak terdengar suara di radio tersebut, entah karena radionya tidak disetel dengan baik atau memang radio itu tidak mampu menangkap gelombang siarannya. Hati nurani orang seperti radio. Ada orang yang hati nuraninya sangat peka. Mereka bisa mendengarkan suara Tuhan berbicara kepada mereka. Tuhan menunjukkan kepada mereka apa yang salah.

Itulah sebabnya mengapa di dalam hubungan antar sesama manusa, Anda tidak perlu berusaha membenarkan diri Anda, jika Anda tahu rahasianya. Jika Anda benar, Anda tidak perlu membela diri. Tuhan akan menunjukkan kepada orang lain bahwa Anda benar dan dia salah. Akan tetapi jika hati nurani orang itu tidak peka, boleh saja Anda berdebat sampai lidah Anda putus, dan orang itu tetap tidak akan mengakui kesalahannya karena dia tidak akan mau mendengarkan hati nuraninya. Karena alasan inilah, saya sering tidak merasa perlu untuk membela diri saya. Tuhan adalah hakim saya. Dan jika mereka memiliki hati nurani, Tuhan akan berbicara pada mereka nantinya. Tentu saja, jika mereka melakukan hal tersebut dalam ketidaktahuan mereka, dan mereka ingin mengetahui faktanya, maka kami akan menyajikan faktanya. Namun banyak orang yang tidak mau mendengarkan fakta. Jika mereka memang berminat pada fakta, maka mereka akan memintanya dari Anda. Namun karena mereka tidak memintanya dari Anda, berarti mereka memang tidak mau tahu. Dalam hal ini, apalah gunanya menyajikan fakta? Serahkan saja hal itu kepada Tuhan. Dia akan membela Anda. Jadi, kita bisa lihat sekarang bahwa iman dan hati nurani berkaitan sangat erat.

Iman dan hati nurani berkaitan erat di dalam Alkitab

Setelah berbicara tentang hati nurani, saya ingin mengajak Anda lebih jauh lagi, melangkah ke dalam hubungan antara iman dengan hati nurani. Nah, karena banyak orang Kristen yang tidak memahami hubungan antara keduanya, mereka tetap tinggal di dalam iman yang lemah, iman mereka tidak pernah bertumbuh, atau lebih buruk lagi, mereka kehilangan imannya, kandaslah iman mereka (1 Timotius 1:19). Untuk membahas hal ini, saya akan beralih ke dalam satu perikop di 1 Timotius dan menunjukkan kepada Anda bagaimana di dalam pasal ini rasul Paulus menunjukkan referensi yang konstan tentang hubungan penting antara iman dengan hati nurani.

Jika iman Anda lemah, jika Anda memiliki masalah dengan iman Anda, inilah saatnya bagi Anda untuk mempertanyakan hati nurani Anda. Saya telah sering melihat orang Kristen yang tidak bertumbuh. Apakah penyebab dari tidak bertumbuhnya iman mereka? Apakah karena kuasa Tuhan tidak cukup? Tidak, hal ini karena mereka tidak hidup di dalam hati nurani yang baik. Dan sering terlihat orang yang berusaha membenarkan dosa atau perilaku mereka yang dikuasai dosa.

1 Timotius 1:5 berbunyi seperti ini: Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci (perhatikan, hati yang suci), dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas. Anda lihat, jika Anda tidak memiliki hati yang suci, maka Anda tidak akan memiliki hati nurani yang baik. Jika Anda belum memiliki hati nurani yang baik, maka Anda tidak akan memiliki iman yang tulus ikhlas. Itulah keseluruhan hubungannya. Jika ada yang salah dengan iman Anda, hal terbaik yang perlu Anda lakukan adalah mengamati hati nurani Anda. Jika ada yang salah dengan hati nurani Anda, maka Anda akan tahu bahwa hati Anda tidak suci.

Dan apakah bahayanya tidak memiliki hati nurani yang baik? Nah, mari kita lihat sedikit lebih jauh lagi di dalam ayat 19: Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka. Iman mereka kandas, binasa, hilang, tenggelam, terserah kata yang mana yang ingin Anda gunakan. Nah, saya tadi menyebutkan tentang doktrin ‘sekali selamat tetap selamat’. Mengapa mereka sampai menolak Kitab Suci yang berbicara dengan sangat gamblang tentang hal itu?

Iman Anda tidak akan kandas jika Anda tidak pernah memiliki iman. Saya tidak akan mengalami kapal karam jika saya tidak naik kapal. Hanya jika Anda berada di atas kapal baru Anda bisa mengalami kapal karam. Hanya jika Anda memiliki iman baru Anda bisa bicara tentang iman yang kandas. Namun seperti yang telah saya katakan, kita menghampiri Kitab Suci dengan membawa serta pemikiran-pemikiran yang kaku di benak kita. Kita tidak mau mendengarkan apa yang disampaikan oleh Kitab Suci. Padahal Kitab Suci berbicara kepada kita dengan sangat terbuka. Dan alasannya adalah karena kita ingin membenarkan hati nurani kita yang jahat, karena kita tidak mau menjalani hidup yang kudus yang menyenangkan hati Tuhan. Kejadiannya memang seringkali seperti  itu.

Kita ingin berkata, “Seperti apapun cara hidupku, aku tetap diselamatkan.” Apakah Anda lebih suka mempercayai dusta daripada kebenaran? Iman dan hati nurani yang baik, seperti yang dikatakan oleh Paulus, ‘menolak hati nuraninya yang murni,’ perhatikan bahwa dia tidak berkata ‘menolak iman’. Kata-katanya yang tertulis di sini adalah ‘menolak hati nurani’. Mereka tidak menolak iman. Yang mereka lakukan adalah menolak hati nuraninya dan akibatnya mereka malah membinasakan iman mereka. Dengan kata lain, jika Anda menghancurkan hati nurani Anda, maka Anda sedang menghancurkan iman Anda. Hubungannya sangat jelas di sini. Saudara-saudariku, cermati baik-baik cara hidup Anda. Jika Anda menghancurkan hati nurani Anda, maka Anda akan berada dalam kebinasaan yang tak bisa diperbaiki lagi.

Dan di dalam ayat 20, rasul Paulus menyebutkan dua di antara mereka yang telah kandas imannya: Himeneus dan Aleksander, yang telah kuserahkan kepada Iblis, supaya jera mereka menghujat. Perhatikan kata ‘menghujat’ yang menghubungkan kita dengan ayat yang sedang kita pelajari di dalam Matius 12. Apakah yang telah terjadi dengan kedua orang Kristen ini? Iman mereka telah kandas, mereka telah menghancurkan hati nurani mereka sama sekali, sehingga tidak ada lagi yang bisa diperbuat oleh Paulus selain menyerahkan mereka kepada setan, supaya mereka jera menghujat, karena mereka telah menghancurkan, telah mengandaskan iman mereka. Nah, ada satu hal yang cukup mengerikan dan mengingatkan kita pada 1 Korintus 5, tentang seseorang yang Paulus serahkan kepada setan juga, karena dia telah menghancurkan hati nuraninya dan melakukan dosa hubungan seksual dengan anggota keluarga sendiri, suatu hal yang lebih buruk lagi dibandingkan dosa perzinahan.

Nah, itulah yang dikatakan oleh Kitab Suci; ini bukan omongan saya. Inilah peringatan dari Kitab Suci kepada kita. Jika Anda menyangkal hati nurani Anda, maka Anda akan mengalami kandas, Anda akan masuk ke dalam kekuasaan setan. Suatu hal yang sangat mengerikan jika dilakukan.

Mari kita perhatikan lagi hubungan antara hal-hal yang telah kita sebutkan tadi: Anda mungkin saja melakukan hujat terhadap Yesus, sebagai orang non-Kristen, di dalam ketidaktahuan Anda. Akan tetapi jika seorang Kristen yang melakukan hujat, maka dia tidak melakukan hujat itu di dalam ketidaktahuan, seperti Himeneus dan Aleksander dalam hal ini. Saat mereka melakukan hujat, mereka tahu apa yang mereka perbuat karena mereka adalah orang Kristen. Ini sangatlah penting untuk mencermati prinsip ketidaktahuan yang merupakan lawan dari kesengajaan.

2. Kita melakukan dosa menghujat Roh Kudus lewat implikasinya (obyek dari ucapan kita)

Kita masuk ke dalam poin yang berikutnya. Bagaimana seseorang melakukan dosa menghujat Roh Kudus?

Banyak pakar yang menilai bahwa dosa jenis ini adalah dosa yang hanya bisa dilakukan oleh orang Kristen saja; ini bukan dosa yang bisa dilakukan oleh orang non-Kristen, karena orang non-Kristen bahkan tidak mengenal siapa Roh Kudus itu, jadi bagaimana mungkin mereka bisa menghujat Roh Kudus? Nah, penalaran semacam ini salah. Dosa melakukan hujat terhadap Roh Kudus tidak semata-mata dosa yang hanya bisa diperbuat oleh orang Kristen saja. Penjelasannya bisa dilihat dengan cara menganalisis apa arti menghujat Roh Kudus itu?

Mari kita bahas tentang bagaimana dosa jenis ini diperbuat. Nah, pertama-tama, mari kita perhatikan bahwa, di dalam perikop ini, orang-orang Farisilah yang menerima peringatan akan dosa ini. Di dalam Matius 12:24, Tetapi ketika orang Farisi mendengarnya, mereka berkata: “Dengan Beelzebul, penghulu setan, Ia (Yesus) mengusir setan.”

Orang-orang Farisilah yang mengucapkan hal seperti ini, dan peringatan dari Yesus ditujukan kepada mereka. Nah, orang-orang Farisi ini bukanlah gambaran dari orang Kristen. Tentu saja, kita harus mengakui bahwa mereka adalah orang-orang yang religius. Mereka adalah orang-orang yang tentunya tahu tentang Roh Kudus, mereka bukan orang yang tidak tahu apa-apa, dan dalam pengertian ini, mereka bisa dikatakan sama dengan orang Kristen. Mereka tidak bisa dikatakan sebagai orang yang tidak percaya jika dikaitkan dengan hal pengetahuan tentang ajaran Kitab Suci. Orang-orang Farisi dididik menurut Kitab Suci. Namun mereka tetap bukanlah orang percaya sekalipun mereka tahu tentang Roh Kudus.

Nah, bagaimana bisa mereka melakukan dosa semacam ini? Hal pertama yang perlu kita pahami secara khusus dalam hal orang Farisi ini, dan orang Yahudi pada umumnya, adalah bahwa mereka bahkan tidak berani menyebutkan nama Tuhan. Mereka menggunakan kata kiasan, yaitu ungkapan yang menunjuk kepada Tuhan. Sebagai contoh, mereka akan menyebut Tuhan dengan ungkapan “Yang Maha Tinggi,”  atau dengan istilah, “Yang Kudus,” atau juga dengan istilah, “Yang Maha Mulia” namun mereka tidak akan berani secara langsung menyebut kata “Tuhan.” Jadi, bagaimana mungkin mereka bisa bersalah menghujat Roh Kudus jika mereka tidak berani menyebutkan nama Tuhan apalagi Roh Kudus?

Ini berarti bahwa orang terakhir yang mungkin bisa melakukan dosa menghujat Roh – jika diartikan sebagai hujatan langsung terhadap Roh Kudus – adalah orang-orang Farisi itu. Mereka tidak akan pernah melakukan dosa ini karena mereka bahkan tidak berani menyebut nama Tuhan secara langsung. Mereka hanya menyebutkan, “Yang Maha Tinggi,” “Yang Maha Kudus,” “Yang Maha Mulia”. Mereka bahkan menggunakan istilah, “Surga.” Seringkali, di dalam tulisan para rabi Yahudi, yaitu Talmud, yang akan Anda temui adalah istilah “Surga” dan bukannya “Tuhan.” Arti ungkapan “Kerajaan Surga” tentu saja adalah “Kerajaan Tuhan.” Keduanya adalah hal yang sama; itu adalah satu contoh dari pemakaian kiasan.

Jadi, bagaimana mungkin orang Yahudi pada umumnya, dan orang-orang Farisi pada khususnya, bisa melakukan dosa semacam ini? Kita harus mengerti poin bahwa dosa ini terjadi bukan karena Anda melibatkan nama Roh Kudus secara langsung.

Dan poin ini terungkap secara jelas di dalam Markus 3:29-30, perikop yang sejajar dengan yang ada di dalam Matius ini. Di sana Yesus berkata,

Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal.” Ia berkata demikian karena mereka katakan bahwa Ia kerasukan roh jahat.

Nah, satu cara untuk mempelajari Alkitab adalah dengan membandingkan sebuah perikop dengan perikop yang lainnya di dalam Kitab Suci. Perhatikan bahwa di dalam Matius 12:32 dikatakan, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak. Ini adalah cara lain untuk menyatakan bahwa hal itu tidak akan pernah diampuni. Ini adalah dosa yang kekal, dan inilah tepatnya hal yang disampaikan di dalam Markus 3:29, yang berkata: ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal. Jadi, tanpa perlu melihat buku tafsiran, Anda sudah bisa tahu apa artinya. Dosa yang kekal adalah dosa yang tidak mendapat pengampunan baik di masa kita maupun di masa yang akan datang – di dunia yang akan datang, atau dalam kekekalan.

Di dalam Markus 3:30, alasan Yesus memberitahu mereka bahwa mereka bisa jadi akan melakukan dosa yang satu ini adalah, karena mereka katakan bahwa Ia kerasukan roh jahat. Nah perhatikanlah, mereka tidak menyebutkan tentang “Roh Kudus” sama sekali, akan tetapi mereka sebenarnya sedang berbicara bahwa Roh Kudus, Roh yang bekerja melalui Yesus, adalah roh jahat. Yang berarti, dan ini adalah poin yang penting untuk diperhatikan, bahwa: dosa penghujatan terhadap Roh Kudus terjadi melalui implikasinya (yaitu, sasaran dari ucapan tersebut). Perhatikanlah hal ini, rujukan langsung terhadap nama Roh Kudus memang tidak ada, akan tetapi dosa itu terjadi lewat implikasinya, yaitu menghubungkan pekerjaan Kristus kepada roh jahat, implikasinya adalah menuduh Roh Kudus sebagai roh jahat. Ini adalah hal yang sangat penting untuk dicermati.

3. Kita berdosa menghujat Roh Kudus jika secara sengaja memilih kejahatan

Mengapa jika Anda berbuat hal yang semacam ini lalu Anda tidak akan pernah diampuni? Mengapa begitu? Mengapa dengan berbicara seperti ini berarti Anda telah memeteraikan nasib Anda selama-lamanya? Mengapa? Pertama-tama, perhatikanlah, yang diperhitungkan bukanlah ucapan itu sendiri melainkan sikap hati yang mendasarinya. Jadi, dosa ini dilakukan dengan sengaja, dan terjadi melalui implikasi. Arti secara sengaja adalah, tindakan itu mengungkapkan sikap hati Anda yang telah memilih untuk berpihak ke mana.

Secara tegasnya, maknanya memang seperti itu. Perhatikan Matius 12:34 yang berkata, “Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati.” Anda lihat, ia terjadi bukan karena mereka telah mengucapkan sesuatu hal, melainkan karena mereka mengatakan sesuatu yang merupakan ungkapan dari sikap hati mereka. Jika Anda mengeluarkan ucapan yang asal-asalan, hal itu saja sudah buruk. Akan tetapi orang-orang Farisi ini mengucapkan hal yang meluap dari hati. Yaitu sikap hati mereka yang sudah menentang Tuhan. Apakah sikap hati mereka itu? Perhatikan ayat 33 dan selanjutnya, di sana ada pembedaan yang konstan antara yang baik dengan yang jahat. Poinnya adalah bahwa mereka telah membuat keputusan secara sadar untuk memilih entah yang baik atau yang jahat. Saat pilihan itu sudah ditetapkan, hal itu akan menentukan di mana kedudukan mereka selanjutnya.

Yang kami maksudkan adalah ini. Jika Anda adalah seoarang Kristen, ingatlah akan Himeneus dan Aleksander, Demas, terlebih lagi Yudas: orang-orang ini telah membuat  suatu keputusan yang sudah diniatkan, sudah mengambil pilihan yang tegas antara yang baik dengan yang jahat. Nah, jika Anda seorang non-Kristen, dan Anda dengan niat sendiri, secara sadar, memilih yang jahat, maka situasi Anda buruk sekali. Namun jika sebagai orang non-Kristen, Anda berkata, “Aku orang yang jahat, tapi aku ingin menjadi baik, aku sangat ingin dibebaskan dari belenggu dosa,” maka Anda masih punya harapan. Harapan apa yang terdapat pada orang yang berkata, “Aku tahu apa yang baik, tetapi aku tidak mau ada di dalamnya”? Orang-orang Farisi menghujat Roh Kudus karena ucapan mereka yang meluap dari sikap hati mereka. Apakah sikap hati mereka? Mereka lebih mengasihi yang jahat daripada yang baik. Seperti yang tertulis di dalam Yoh 3:19 – tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.

Perhatikan ungkapan yang penting di dalam ayat 35: “Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat.” Perbendaharaan yang jahat? Bagaimana hal-hal yang jahat itu menjadi perbendaharaannya? Dengan cara menimbun kejahatan: dia mengasihi kejahatan, jadi dia mengumpulkan kejahatan. Anda hanya akan mengumpulkan hal-hal yang Anda cintai. Anda tidak akan mengumpulkan hal-hal yang tidak Anda cintai. Dan orang-orang memang memilih yang jahat, dan hal itu berlangsung dalam proses yang bertahap dimulai dari pilihan Anda akan hal jahat yang remeh, lalu Anda terus memilih yang jahat-jahat, Anda menjadi semakin membangkang, Anda menjadi semakin keras kepala, hati Anda menjadi semakin keras saja. Ini adalah proses berkelanjutan yang sangat berbahaya. Anda tidak mau mendengarkan Firman Tuhan, Anda menolaknya, Anda membantahnya. Dan semakin Anda membantahnya, semakin Anda menolaknya, semakin keras pula hati Anda, semakin kuat tekad Anda untuk masuk ke dalam yang jahat. Ini adalah situasi yang mengerikan.

Ada sebagian orang yang mau mendengarkan Firman Tuhan, dan mereka mendengarkannya berhari-hari, berminggu-minggu dan berbulan-bulan, namun kenyataannya mereka menolak untuk memilih, mereka telah memilih untuk menolak, setidaknya untuk sementara waktu. Bahaya besarnya adalah bahwa hati Anda akan menjadi semakin keras selama waktu itu. Saat Anda mendengarkan teguran dari Firman Tuhan dan Anda menolaknya, akan tiba saatnya di mana Anda tidak akan menerima teguran lagi. Hati Anda sudah benar-benar tertutup.

Apakah and benar-benar menginginkan apa yang baik?

Setiap orang yang mencintai kegelapan, yang mengasihi kejahatan tidak akan mengasihi hal yang kudus, yang baik. Anda tidak akan bisa mengasihi keduanya di saat yang bersamaan. Anda akan selalu membuat pilihan moral dalam segenap kehidupan sehari-hari Anda, apakah Anda menyadarinya? Ingatlah akan apa yang telah kami sampaikan tentang hal hati nurani. Anda sedang membuat pilihan moral

Pada akhirnya Anda bisa masuk ke dalam bencana penghujatan terhadap Roh dengan memilih yang jahat atau dengan ketidakinginan untuk memilih Dengan tidak memilih, sebenarnya Anda sudah membuat pilihan, yaitu untuk tidak memilih yang baik. Nah, Roh Kudus adalah Roh yang suci. Hanya orang yang sudah muak dengan dosa saja yang bisa datang kepada Tuhan, orang yang sudah muak dengan kejahatannya sendiri dan menginginkan apa yang baik.

Pertanyakanlah hal ini di dalam diri Anda, entah Anda sebagai orang Kristen atau pun seorang non-Kristen. Jika Anda seorang non-Kristen, renungkanlah hal tersebut. Apakah Anda benar-benar menginginkan hal yang baik? Apakah mendengarkan Injil bagi Anda hanya merupakan latihan intelektual di mana Anda bisa mencari pengetahuan tambahan dari Alkitab, Anda hanya ingin mendengarkan tetapi tidak mau membuat keputusan? Atau, apakah Anda ingin memilih apa yang baik di dalam hati Anda? Apakah Anda berkata, “Aku memang ingin tahu apa yang baik itu karena aku ingin memilihnya. Aku ingin agar hatiku terbuka bagi kebenaran. Aku ingin menerima apapun hal yang baik, yang kudus, itu”?

Ada juga orang Kristen yang pada awalnya memilih apa yang baik, namun karena tergoda oleh dosa, mereka terpikat olehnya, secara perlahan, mereka beralih kepada yang jahat. Ini sangat berbahaya. Selanjutnya mereka menjauh dari iman. Mereka menyangkal hati nurani mereka. 1 Timotius 4:2 adalah ayat yang menakutkan. Apa sebenarnya yang terjadi? Karena hati nurani itu terus saja mengganggu mereka, lalu mereka menghancurkan hati nuraninya. Dan jika Anda melakukan hal tersebut, maka Anda akan terjerumus ke dalam berbagai masalah. 1 Timotius 4:1 berbunyi, Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan. Anda tidak akan meninggalkan iman jika Anda tidak punya iman. Anda baru bisa meninggalkan iman kalau Anda memang pernah ada di dalamnya. Roh Kudus sendirilah yang mengatakan hal itu. Akan tetapi, orang Kristen zaman sekarang ini, bahkan para pendeta dan penginjilnya, menolak apa yang dikatakan oleh Roh. Mereka berkata bahwa Anda tidak akan terpisah dari iman. Anda tidak akan binasa. ‘Sekali selamat, Anda akan tetap selamat.’ Apakah yang dikatakan oleh Kitab Suci? Mengapa kita mengeraskan hati kita terhadap Firman Tuhan? Apakah kita menolak hati nurani kita?

Hati nurani yang sudah hangus tidak bisa meminta pengampunan dari Tuhan; jadi Anda tidak akan diampuni

Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka. ‘Memakai cap (seared berarti memakai cap, disegel, hangus)’ di sini berarti terbuang, binasa, hangus, hancur. Hati nurani yang sudah hangus adalah hati nurani yang sudah binasa. Tak ada lagi tempat bagi Roh Kudus untuk berbicara kepada orang itu. Bagaimana Anda bisa menyelamatkan orang yang hati nuraninya sudah hangus? Apakah Anda sudah melihat apa jawaban dari hal yang sedang kita pelajari sekarang ini? Jika seseorang menetapkan pilihannya kepada yang jahat berdasarkan niatnya sendiri atau pun hanyut ke dalamnya tanpa dia sadari, maka orang itu pada akhirnya akan menyegel hati nuraninya. Jika hati nurani Anda sudah Anda segel, maka Anda tidak akan pernah mau mendengarkan hati nurani Anda lagi, lalu bagaimana Tuhan bisa berbicara kepada Anda? Jika Tuhan tidak bisa berbicara kepada Anda, maka Anda tidak akan meminta pengampunan. Dan jika Anda tidak pernah meminta pengampunan, bagaimana Anda bisa diampuni? Bagaimana Anda bisa diselamatkan? Bisa Anda katakan bahwa penyegelan hati nurani adalah perbuatan dosa yang tidak terampuni. Segamblang itu. Nah, kita sudah sampai pada jawaban yang jelas dari persoalan yang sedang kita pelajari.

Hujat terhadap Roh Kudus: Menolak-Nya sehingga Dia tidak bisa memerdekakan Anda dari kuasa Iblis

Jika disajikan dengan cara lain: apakah yang dikerjakan oleh Roh Kudus itu? Pekerjaan Roh Kudus, jika kita kembali ke Matius 12:28, misalnya, sangatlah jelas. Yaitu membebaskan kita dari kuasa Iblis, dari kuasa yang jahat. Yesus sendiri, dengan cara apa Dia mengusir roh jahat? Dia mengusir roh jahat dengan kuasa Roh Kudus. Artinya, tanpa Roh Kudus, kita tidak akan bisa merdeka dari roh-roh jahat itu, dari kuasa Iblis. Para roh jahat itu adalah pasukan Iblis, agen-agen Iblis yang bekerja buat dia. Itu sebabnya mengapa Yesus bekerja dengan kuasa Roh Tuhan untuk membebaskan kita.

Yesus berkata, “Kalian boleh berbicara apapun tentang Aku karena kalian tidak tahu siapa Aku. Perlu waktu bagi kalian untuk bisa mengenal-Ku. Aku mengerti akan hal itu. (Betapa penuh pengertiannya Yesus itu.) Namun, apapun yang kalian perbuat, janganlah tutup hati kalian terhadap Roh Kudus. Jika kalian melakukan hal itu, maka kalian akan binasa karena Dia tidak akan bisa memerdekakan kalian dari kuasa dosa.” Jika kita sudah mengerti bahwa pekerjaan Roh Kudus adalah untuk memerdekakan Anda dan saya dari dosa, dari belenggu dan kuasa Iblis, maka kita akan bisa mengerti semua hal ini.

Jika Anda menolak Roh Kudus dengan menghujat-Nya, lalu dengan cara apa Anda bisa dibebaskan dari kuasa dosa? Bagaimana Anda bisa dimerdekakan dari Iblis? Dan jika Anda tidak dimerdekakan dari dosa dan Iblis, bagaimana Anda bisa diampuni?

Menghujat Roh Kudus: dosa yang tidak terampuni karena Anda telah menolak pengampunan

Roh Kudus adalah karunia Tuhan, anugerah Tuhan, kepada kita. Jika Anda menghujat atau menolak Roh Kudus, berarti Anda telah menolak pengampunan. Jika Anda telah menolak pengampunan, bagaimana Anda bisa diampuni? Itu sebabnya, ini menjadi dosa yang tidak terampuni karena Anda sendiri telah menolak pengampunan itu. Anda lihat, jika kita menghampiri Kitab Suci dengan hati yang terbuka, pikiran yang terbuka, sikap hati yang rela diajar, tak akan ada hal yang sulit untuk dipahami.

Kita rangkum sekali lagi, Roh Kudus itu mewakili pengampunan Tuhan kepada kita. Dia menerapkan pengampunan Tuhan itu di dalam hidup kita. Dia mematahkan kuasa Iblis, kuasa si jahat, kuasa dosa di dalam hidup kita. Jika Anda menolak Roh Kudus, maka tentunya itu berarti Anda telah menolak pengampunan itu sendiri. Jika Anda menolak diampuni, sesuai dengan makna kehadiran Roh Kudus itu, maka Anda tidak akan pernah diampuni. Jelas sekali.

Peringatan: tetaplah memiliki hati nurani yang terbuka bagi Tuhan

Satu poin terakhir, dan kita akan tutup. Apakah peringatan yang disampaikan kepada kita? Apa yang bisa kita pelajari dari pokok ini? Nah, tentu saja, hal yang bisa saya pelajari dari pokok ini adalah memahami betapa pentingnya hati nurani, memahami bahwa Roh Kudus berbicara kepada saya melalui hati nurani saya. Saya berdoa, dengan kasih karunia Tuhan, kiranya saya boleh memiliki hati nurani yang selalu terbuka bagi Dia. Saya memohon kepada-Nya, “Tuhan, jika aku telah mengucapkan hal-hal yang salah, jika aku telah melakukan hal-hal yang salah, Engkau tahu isi hatiku, kumohon kepada-Mu, tunjukkanlah hal itu kepadaku. Ajarlah aku untuk memahaminya.” Jika saya jalankan sikap hati yang semacam ini di hadapan Tuhan, tentu saja, saya tidak akan pernah tersesat. Dengan sikap hati semacam ini, saya tidak akan sesat karena Dia akan selalu bisa menolong saya. Sekalipun saya berbuat dosa di dalam ketidaktahuan saya, di dalam kebodohan saya, di dalam kelemahan saya, setiap dosa bisa diampuni kecuali dosa penolakan terhadap pengampunan itu sendiri. Saya akan merangkak kembali kepada-Nya dan saya akan berkata, “Tuhan, berbelaskasihanlah kepada saya. Ampunilah kelemahan saya.” Seperti Daud yang berkata, “Arahkanlah pandangan-Mu kepadaku, aku ini hanya seorang manusia. Aku ini hanyalah debu. Kasihanilah aku. Ampunilah dosaku.” Dan saya tahu bahwa Dia akan mengampuni.

Jangan pernah lari dari Tuhan jika Anda berbuat dosa

Nah, pelajaran lain yang perlu dipahami dari pokok ini adalah: jika Anda telah memahami sisi positifnya, bahwa Tuhan selalu bertsedia mengampuni jika kita bersedia mengijinkan Dia mengampuni Anda, jika Anda rela meminta pengampunan-Nya. Itu berarti, mengapa kita harus lari dari Dia saat kita berbuat dosa? Mengapa? Saya tidak akan lari dari Dia jika saya berbuat dosa. Jika saya telah berbuat dosa, hal terakhir yang akan saya lakukan adalah lari dari Tuhan. Akan tetapi, apakah Anda melihat apa yang kita perbuat?

Seringkali saat kita berbuat dosa, kita lari dari Tuhan karena kita merasa, “Aku penuh dengan dosa, sedangkan Dia itu maha kudus.” Tentu saja Dia itu kudus akan tetapi kekudusan-Nya adalah kekudusan yang menyembuhkan. Janganlah ketakutan pada kekudusan-Nya. Namun Anda tahu bagaimana reaksi kita pertama-tama. Anda dan saya, kita tahu bagaimana kejadiannya. Ketika saya berbuat kesalahan, saya tidak berani datang kepada Tuhan. Sama seperti Adam dan Hawa, mereka bersembunyi di balik semak. Mereka memetik daun ara dan menutupi tubuh mereka dengan itu. Betapa sia-sianya daun ara itu. Bagaimana kalau daun ara itu layu? Maksud saya, keadaannya mungkin cukup baik selama daun ara itu masih segar, dan memang daun itu akan tetap segar untuk sementara waktu, namun bagaimana jika daun ara itu layu? Anda akan kembali kepada keadaan Anda semula. Anda tahu, begitulah reaksi awal kita ketika pertama kali kita berbuat dosa. Yang perlu kita pelajari dari sini adalah: saat kita berbuat dosa, hal apakah yang paling kita perlukan? Kita butuh pengampunan. Dan siapakah yang paling berwenang memberi pengampunan selain Tuhan? Jadi kita harus belajar untuk mengubah sikap hati kita. Artinya, setiap kali kita berbuat dosa, daripada lari dari Tuhan, kembalilah kepada-Nya. Dialah tempat pelarian dan benteng perlindungan kita. Anda tahu, lari dari Tuhan di saat kita berbuat dosa sama seperti orang sakit yang lari dari dokter setiap kali dia terkena penyakit. Sangat masuk di akal bahwa saat di mana kita paling membutuhkan Tuhan adalah saat kita berbuat dosa. Sungguh aneh reaksi yang melarikan diri dari Tuhan di saat Anda telah berbuat dosa! Jadi, marilah kita belajar dari hal ini.

Kesimpulan

Kristen atau bukan Kristen, keduanya bisa melakukan hujat terhadap Roh Kudus: Jangan pernah menolak Tuhan

Terakhir, pokok yang harus kita pelajari dari sini adalah: jangan pernah mengeraskan hati Anda kepada Tuhan. Satu hal yang tidak boleh Anda lakukan: jangan tutup hati Anda bagi Tuhan. Itu adalah jalan menuju kebinasaan. Jalan menuju kebinasaan. Jemaat di Laodikia menjalani jalur yang satu ini. Orang-orang Kristen juga memilih jalur yang satu ini. “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok.” Yesus berada di luar Jemaat-Nya sendiri! Saya bertanya-tanya, bukankah hal ini terjadi sekarang juga? Kita telah mengusir-Nya keluar dari hidup kita. Kita telah mengusir-Nya keluar dari Gereja-Nya.

Saya ingatkan Anda sekali lagi, penghujatan terhadap Roh Kudus bisa dilakukan baik oleh oarang Kristen mau pun oleh orang non-Kristen. Sebagaimana yang telah saya katakan, kita tidak bisa membatasi hal ini kepada orang Kristen saja, seperti yang dikira oleh beberapa pakar karena mereka secara keliru menganggap bahwa hujat terhadap Roh Kudus berarti menyebut langsung nama Roh Kudus dan hanya orang Kristen yang bisa melakukan hal ini karena hanya orang Kristen yang mengenal Roh Kudus. Ini jelas keliru. Kita telah melihat bahwa orang-orang Farisi bukanlah orang Kristen, mereka memang tahu tentang Roh Kudus namun mereka tidak akan pernah berani menyebut Roh Kudus secara langsung. Dosa terhadap Roh Kudus bisa dilakukan baik oleh orang Kristen mau pun orang non-Kristen.

Kita telah melihat bahwa dosa tersebut adalah sikap hati yang menolak Tuhan, yang menutup hati bagi Tuhan. Jemaat di Laodikia sedang melakukan hal itu dan Yesus memperingatkan mereka, “Jika kamu tidak bertobat, Aku akan memuntahkanmu dari mulut-Ku. Aku akan meninggalkanmu. Berhati-hatilah jangan sampai Aku menghapus namamu dari Kitab Kehidupan.” Ini bukanlah gertak sambal. Mari kita belajar satu hal: jangan pernah menutup hati kita terhadap Roh Tuhan.

Dosa yang tidak terampuni adalah: pemberontakan terhadap Tuhan sampai akhirnya tidak bisa dipulihkan lagi

Di dalam Perjanjian Lama juga, mereka tahu tentang dosa yang tidak terampuni. Sebagai penutup, ijinkan saya membacakan ayat-ayat dari Perjanjian Lama tersebut. Ayat-ayat tersebut berkaitan dengan suku Yehuda, orang-orang Yahudi pada abad ke-6 SM di dalam 2 Tawarikh 36:16, yang menunjukkan kepada Anda tentang bagaimana hati Anda mengeras. Ingatlah bahwa orang-orang Yahudi ini adalah umat Tuhan. Di dalam hal ini, kita bisa menyamakan mereka dengan orang-orang Kristen di masa Perjanjian Baru. Orang-orang Yahudi adalah umat pilihan Tuhan.

2 Tawarikh 36:15

Saya akan membacanya dari 2 Tawarikh 36:15, Namun TUHAN, Tuhan nenek moyang mereka, berulang-ulang mengirim pesan melalui utusan-utusan-Nya, karena Ia sayang kepada umat-Nya dan tempat kediaman-Nya (Bait Tuhan). Tetapi mereka (orang-orang Yahudi) mengolok-olok utusan-utusan Tuhan itu, menghina segala firman-Nya, dan mengejek nabi-nabi-Nya. Oleh sebab itu murka TUHAN bangkit terhadap umat-Nya, sehingga tidak mungkin lagi pemulihan.

Saya beritahu Anda, kata-kata yang terakhir itu menakutkan bagi saya: sehingga tidak mungkin lagi pemulihan. Dengan kata lain, Tuhan itu maha sabar. Anda tidak melakukan dosa penghujatan terhadap Roh Kudus dalam satu kali perbuatan saja. Tuhan menegur mereka dengan sabar, dan secara perlahan-lahan, sebagaimana yang telah terjadi. Kemarahan-Nya terhadap mereka bangkit di saat tidak mungkin lagi ada pemulihan. Sudah tidak bisa diampuni lagi. Sudah tamat.

Dan selanjutnya, jika kita baca ayat 17 dan seterusnya, Tuhan menghancurkan kerajaan Yehuda dan menghapusnya dari peta. Tidak berdiri lagi. Seluruh angkatan itu harus binasa. Masa 70 tahun pengasingan tentunya akan menghabiskan angkatan itu. Mereka akan benar-benar tersapu; sama seperti habisnya angkatan yang mengembara di padang gurun, demikian pula angkatan ini juga dihapuskan. Perhatikan kata, “70 tahun’ di dalam ayat 21, Dengan demikian genaplah firman TUHAN yang diucapkan Yeremia, sampai tanah itu pulih dari akibat dilalaikannya tahun-tahun sabatnya, karena tanah itu tandus selama menjalani sabat, hingga genaplah tujuh puluh tahun. Masa 70 tahun adalah masa hidup satu generasi. Generasi tersebut tidak diampuni. Dihapuskan tanpa jejak. Anda lihat, Tuhan itu sangat sabar, akan tetapi jika Anda terus saja mengeraskan hati Anda kepada Dia, mengolok-olok utusan-Nya, menghina Firman-Nya, memberontak terhadap Dia, akan tiba saatnya ketika murka Tuhan datang dan tidak ada lagi pemulihan. Tidak ada lagi harapan. Sudah berakhir.

Amsal 6:15

Yang kedua, perhatikan juga ajaran yang sama di dalam Amsal 6:15. Apa yang terlihat di sini? Kita melihat kata-kata yang sama yang disampaikan dengan keseriusan dan ketegasan yang sama pula. Mungkin kita perlu membaca dari ayat 12 untuk bisa melihat seluruh konteksnya: Tak bergunalah dan jahatlah orang yang hidup dengan mulut serong, yang mengedipkan matanya, yang bermain kaki dan menunjuk-nunjuk dengan jari (tukang fitnah), yang hatinya mengandung tipu muslihat (perhatikan bahwa hatinya mengandung tipu muslihat), yang senantiasa merencanakan kejahatan, dan yang menimbulkan pertengkaran (waspadailah orang yang gemar bertengkar). Itulah sebabnya ia ditimpa kebinasaan dengan tiba-tiba, sesaat saja ia diremukkan (perhatikan kata berikut ini) tanpa dapat dipulihkan lagi. Tak ada lagi harapan bagi orang ini. Dia akan diremukkan, dihancurkan. Kata ‘diremukkan’dalam bahasa Ibrani menggambarkan tindakan seperti membanting periuk sampai hancur, misalnya gereabah yang baru dikeluarkan dari pembakaran, dan ternyata hasilnya tidak sempurna, ia akan dibanting hancur – pecah berkeping-keping.

Amsal 29:1

Hal yang sama juga terlihat di dalam Amsal 29:1. Dan kata-kata yang ada di sana adalah kata-kata yang harus diperhatikan oleh setiap orang Kristen. Siapa bersitegang leher, walaupun telah mendapat teguran, akan sekonyong-konyong diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi. Perhatikan bahwa orang tersebut telah diberi banyak kesempatan, dia sering diingatkan, sering diberitahu kesalahannya, ditegur. Kata ‘mendapat teguran’ berarti diingatkan, namun dia bersitegang leher, menolak teguran itu, maka dia akan sekonyong-konyong diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi. Tidak ada penyembuhan, pemulihan karena sudah melampaui batas pengampunan.

Hujat terhadap Roh Kudus bisa terjadi dengan mengabaikan atau menolak teguran

Nah, dari situ kita telah melihat bahwa Anda bisa melakukan hujat terhadap Roh Kudus, dan saya berdoa kepada Tuhan agar tak seorang pun di sini yang akan melakukannya, namun hal itu bisa terjadi melalui cara ini: secara sengaja menolak teguran. Ada cara untuk menguji sikap hati Anda: bagaimana cara Anda menghadapi teguran. Jika Anda ditegur, bagaimana Anda bereaksi? Jika Anda diingatkan, bagaimana Anda menerima peringatan itu? Apakah hal itu akan melukai keangkuhan Anda atau Anda dengan rendah hati mau menerima hal tersebut entah salah atau pun benar? Seperti yang saya katakan sebelumnya, biarkanlah Tuhan berbicara ke dalam hati nurani orang lain. Buat apa berkeras mebenarkan diri Anda? Tidak mampukah Tuhan membenarkan Anda? “Pembalasan adalah milik-Ku,” firman Tuhan. Dia mampu membela Anda.

Namun di sini kita bisa melihat apa yang akan terjadi jika Firman Tuhan datang kepada Anda secara konstan dan Anda terus menolaknya atau Anda tidak mengambil keputusan apa-apa tentang itu, seperti yang dikatakan oleh Ibrani 2:3, bagaimanakah kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu? Kata yang tertulis di sana adalah ‘menyia-nyiakan’. Anda bisa binasa jika secara sengaja berbuat dosa, seperti yang telah kita lihat saat kita mempelajari tentang masalah jaminan keselamatan. Kita juga bisa tersesat jika kita menyia-nyiakan kebenaran, tidak mengambil tindakan atasnya, tidak melakukan apa-apa. Bagaimanakah kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu? Demikian kata penulis surat Ibrani. Apakah Anda sedang menyia-nyiakan keselamatan? Itu sama dengan kejahatan, sama buruknya.

Jika Anda bersedia melakukan kehendak Tuhan, Anda akan mengenal siapa Yesus itu

Nah, inilah rangkumannya. Saya yakin kita semua sudah memahami ajaran Yesus yang satu ini dengan jelas dan utuh sekarang. Kita sekarang tahu apa yang sedang disampaikan itu, pemilahan antara hujat terhadap Roh Kudus dengan Hujat terhadap Kristus. Yesus sangatlah sabar. Dia tahu bahwa kita tidak bisa percaya begitu saja kepada Dia dalam satu atau lima menit. Kita belum kenal siapa Dia. Namun selama hati kita terbuka kepada Tuhan, mau diajar oleh-Nya – kata Yesus di dalam Yoh 7:17,Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Tuhan, entah Aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri. Anda akan mengetahuinya jika Anda adalah orang yang bersedia melakukan kehendak Tuhan. Apakah Anda bersedia melakukan kehendak Tuhan? Maka Anda akan tahu kebenaran itu. Jika Anda tidak bersedia melakukan kehendak Tuhan, maka Anda tidak akan tahu kebenaran. Ini adalah masalah kesediaan. Perkara diselamatkan adalah masalah kesediaan.

Hujat terhadap Roh Kudus tidak dilakukan dengan ucapan langsung melainkan lewat penolakan yang diniatkan

Jadi, kita bisa lihat bahwa hujat terhadap Roh Kudus tidak harus disertai dengan rujukan langsung terhadap nama-Nya, ini adalah masalah sikap hati, masalah kehendak, lewat mana Anda melakukan penolakan terhadap Dia. Dan jika Anda telah menolak-Nya, maka Anda tidak bisa diselamatkan karena Anda telah menolak peluang keselamatan, karena Dialah yang membawa keselamatan dari Tuhan kepada Anda. Namun kita juga diingatkan bahwa, dari masalah ini, kita harus belajar untuk selalu membuka hati kita kepada Tuhan. Selalu terbuka.

Hujat terhadap Roh bisa terjadi sampai ke tingkat tidak mungkin lagi ada pemulihan

poin terakhir yang perlu kita renungkan adalah, bisakah dosa ini terjadi sekarang ini? Mungkinkah di dalam hidup ini Anda masuk sampai ke tahap tidak ada jalan kembali lagi? Jawabannya mungkin ya untuk kasus Himeneus dan Aleksander, orang yang telah kandas imannya. Orang-orang, sebagaimana yang kita lihat, di dalam 1 Timotius 4:2, yang telah menghancurkan hati nurani mereka dan menutup saluran kasih karunia Tuhan bagi mereka saat ini juga.

Kisah nyata: Mungkinkah dia telah berbuat dosa hujat terhadap Roh Kudus?

Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan satu peristiwa yang selalu menjadi bahan pemikiran buat saya, membuat bingung dan sedih hati saya, dan tampaknya bisa menjadi gambaran bagi pokok pembahasan sekarang ini. Saat saya masih di Inggris, sebelum melayani di Liverpool, saya sering melakukan penginjilan pribadi di Cambridge. Saya melakukan ini karena saya kuliah beberapa pelajaran di sana, dan saya ingin memakai waktu saya untuk pergi bersaksi kepada mahasiswa lain, terutama mahasiswa dari China. Dan di Cambridge, cukup mudah melakukan ini karena nama para mahasiswa itu tertulis di papan di luar asrama atau pemondokan mereka. Jadi, saya biasanya berjalan menyusuri tempat-tempat pemondokan dan jika saya melihat ada nama orang Tionghoa, saya akan melihat di kamar nomor berapa tempatnya dan saya akan mengetuk pintu kamar itu dan berbicara dengan mereka tentang Tuhan. Dan Tuhan telah mengerjakan hal-hal yang ajaib: cukup banyak orang yang datang kepada Tuhan dengan cara ini.

Saya teringat suatu hari di Cambridge, saya dipanggil oleh ibu pengelola pemondokan tempat saya tinggal untuk berbicara dengan seorang mahasiswa dari China. Dia sering memanggil saya untuk berbicara dengan berbagai mahasiswa, kadang dari Inggris, kadang dari Afrika, dan kali ini, orangnya adalah mahasiswa dari China. Lalu saya bercakap-cakap dengannya, setelah agak lama, saya bertanya apakah dia mau menerima Tuhan. Dan saya melihat hati yang mengeras. Dan akhirnya saya berkata, “Nah, kita akan berlutut bersama, jika kamu sudah siap menyingkirkan ketegaran hatimu, bukalah hatimu kepada Tuhan dan terimalah Dia sekarang, dan biarlah pengampunan serta keselamatan dan hidup kekal dari Tuhan masuk ke dalam hidupmu.” Lalu kami berlutut bersama dan saya menunggu, berdoa dan menunggu. Terasa sepi, tak terjadi sesuatu apapun.

Beberapa saat kemudian, saya mendengar suara keluhan. Dia mengeluh dan berkata, “Aku tak bisa melakukannya. Aku tidak bisa.” Saya bertanya, “mengapa tidak bisa?” Dia berkata, “Tidak tahu.” Saya tanyakan lagi, “Mengapa?” Dia menjawab, “Ada semacam kuasa yang mencegah saya untuk menerima pengampunan dari Tuhan.” Saya bertanya, “Nah, itu adalah kehendakmu sendiri. Kuasa apa itu?” Dia berkata, “Tidak bisa, kau lihat, aku tidak bisa melakukannya.” Dan dia berlutut di sana sambil merintih dan mengerang. Saya belum pernah melihat orang mengerang seperti itu sampai lama.

Dia harus naik kereta kembali ke London karena dia kuliah kedokteran di London, dan saya memperhatikan jam, jika dia tidak segera pergi ke stasiun maka dia tidak bisa kembali ke London hari itu juga. Setelah menunggu beberapa lama, dia masih belum bangkit juga dari posisi berlututnya. Lalu saya berkata, “Kalau kamu tidak berniat menerima Yesus sekarang, maukah kamu bangun? Kalau kamu ingin kembali ke London, sebaiknya kamu bergegas sekarang juga.” Namun dia tidak mau bangkit. Saya berkata, “Nah, kamu mau ke stasiun atau tidak?” Dia berkata, “Tidak, aku tidak mau ke stasiun. Aku tidak peduli dengan jadwal kereta.” Saya berkata, “Baik, apakah kamu mau menerima Yesus?” Dia menjawab, “Aku tidak bisa!”

Saya berpikir, saya tidak pernah menemui situasi seperti ini. Dia berkata bahwa dia tidak bisa menerima Yesus tetapi dia tidak peduli pada jadwal pulangnya, dan dia hanya mengerang and mengeluh saja di sana sampai lama. Saya melihat dia seperti tercabik-cabik di hadapan saya dan hal ini berlangsung sampai sekitar satu jam. Dia masih berlutut dan tidak mau bangkit. Kemudian, saya bangkit akan tetapi dia masih juga berlutut, masih mengerang. Saya menilai bahwa orang ini mungkin berada di dalam belenggu kuasa Iblis.

Lalu saya bertanya, “Apakah kamu mau dibebaskan dari kuasa Iblis? Jika kamu benar-benar ingin merdeka, aku akan berdoa untukmu supaya kamu dibebaskan. Aku akan mengusir setan di dalam nama Yesus.” Tahukah Anda apa jawabnya? Dia berkata, “Tidak.” Saya bertanya, “Lalu mengapa kamu tetap berlutut?” Dan dia menjawab, “Karena di satu pihak, aku ingin dibebaskan, namun di pihak lain, aku juga tidak ingin merdeka.”

Anda tahu, sampai dengan saat ini saya masih tidak mengerti akan hal itu. Bahkan sampai tadi malam, saat saya sedang merenungkannya, saya masih diliputi kebingungan akan hal ini.

Dan suatu hari, saya mebicarakan hal ini dengan dia, dan saya berkata, “Apa sebenarnya yang sedang terjadi?” Dia menjawab, “Aku tidak tahu. Biar kuceritakan padamu tentang masa lalu saya.” Dan saya berkata, “Beritahukan saya peristiwa yang berujung pada kejadian ini.”

Lalu dia bercerita bahwa di masa mudanya, dia pernah ingin menjadi orang Kristen, dan bahkan dia telah menjadi orang Kristen. Dan kemudian dia mengeraskan hatinya terhadap Tuhan sekalipun sering ditegur, seperti ayat-ayat yang telah kita lihat tadi (bandingkan dengan 2 Taw 36:15, Ams 6:15, 29:1). Dan karena dia secara terus menerus ditegur oleh Roh Kudus – pekerjaan Roh Kudus, seperti yang diberitahukan kepada kita di dalam Yoh 16:8 adalah menyatakan dosa-dosa kita melalui hati nurani kita – dia lalu mengeraskan hatinya. Dia bersitegang leher, seperti yang kita lihat di dalam Amsal, sampai kemudian tampaknya dia telah ditolak oleh Tuhan. Terjadi hal yang seperti dituliskan dalam Kejadian, “Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia.” Tuhan tidak akan selamanya menyertai Anda jika Anda tidak mau mendengarkan Dia. Dia akan meninggalkan Anda. Tampaknya saat itu sudah tiba bagi dia, karena dia terus saja menolak dan menghujat Roh Kudus lewat perbuatannya, maka Roh Tuhan meninggalkan dia. Dan dia diserahkan kepada setan, seperti yang kita lihat di dalam kasus Himeneus dan Aleksander. Saya bertanya-tanya mungkinkah ini yang menjadi penyebabnya. Lalu datanglah saat ketika dia masuk ke dalam belenggu setan, dan ajaibnya, di sisi lain dia masih merindukan kemerdekaan yang pernah dia rasakan, namun kerinduan itu tidak cukup besar untuk menjadi keinginan agar dimerdekakan dari kuasa setan.

Pernahkah Anda melihat orang yang lebih sengsara dan menderita dibandingkan dia? Saya tidak pernah melihat orang yang lebih menderita daripada dia. Saya bertanya-tanya, saya tidak mau secara dogmatis memastikan hal ini tapi saya bertanya-tanya, apakah dia telah melakukan dosa penguhjatan terhadap Roh Kudus, dan dia telah mencapai tahapan di mana tidak ada lagi pengampunan karena dia telah menghancurkan hati nuraninya, dan akhirnya dia tidak mau dimerdekakan. Berulang kali saya merenungkan hal ini. Saya belum pernah menjumpai kasus semacam ini dan setelahnya, tidak pernah lagi.

Namun di sini terselip satu peringatan bagi saya dan kita semua: berhati-hatilah jika Roh Kudus terus mengingatkan Anda melalui hati nurani Anda, janganlah Anda menutup hati nurani Anda terhadap Tuhan. Sebagaimana yang kita lihat di dalam 1 Timotius 1:19, Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka. Tuhan ingin agar tak seorang pun dari kita sampai masuk ke dalam situasi yang mematikan ini, namun agar hati kita telalu terbuka kepada Tuhan, selalu rela diajar. Tak peduli berapa kali kita jatuh, marilah kita merangkak kembali kepada Dia dan berkata, “Tuhan, berbelaskasihanlah kepadaku, aku ini orang berdosa.”

SELESAI

(Copyright owned by Cahaya Pengharapan Ministries. May be used for non-profit purposes but must be attributed to this website.)

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Juli 18, 2012 in Doktrin/PA

 

Tag:

One response to “Dosa yang Tidak Terampuni

  1. Lubis

    Agustus 2, 2014 at 3:51 am

    Jazakallohu.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: